Saturday, July 17, 2021

Kesepian di Masa Kuncitara


Indonesia, atau tepatnya Jakarta saat ini sedang berusaha untuk menanggulangi tingkat kasus terpapar Covid19 yang semakin meningkat. Upaya untuk melakukan PPKM darurat dilakukan guna menghambat penyebaran si Virus nakal ini. Apapun istilah yang dipakai, yang kita ketahui adalah kuncitara / lockdown memakan kita untuk masuk dalam suatu "penjara kecil".

Bagi orang yang cukup extrovert seperti saya, terkurung dalam rumah, sendiri, memperhadapkan dengan suatu rasa kesepian. Bersyukur dalam perjalanan hidup, saya telah belajar tentang menghadapi kesepian yang sangat menyiksa kira-kira 6 tahun yang lalu. Ketika itu saya belajar dari tulisan yang diberikan oleh seorang sahabat. Ternyata saya pernah mem-post dalam blog ini 6 tahun yang lalu di bulan yang sama. Kutipan dalam bahasa inggris itu saya coba terjemahkan agar dapat membantu Anda yang saat ini membaca Blog ini: 

Dalam menghadapi kesepian (atau luka apapun) – Henri Nouwen

“Saya memutuskan untuk menjalani suatu kehidupan di Amerika Serikat, dan saya mengalami penderitaan dan kehilangan mendalam akan persahabatan, tetapi perlahan saya mulai menyadari bahwa pengalaman kesepian dan pengalaman keterpisahan mungkin bukan suatu hal yang negatif. Hal ini, saya pikir, membawa saya lebih terhubung dengan orang lain yang mengalami kesepian juga. Jika saya tidak lari daripadanya, melainkan merasakan hal ini (kesepian) secara keseluruhan, mungkin nanti akan berbuah.

Tetiba saya mendapatkan ide ini mengenai kesepian, yaitu suatu penderitaan/luka, ketika kamu tidak melarikan diri daripadanya, melainkan merasakan sepenuhnya, dan berada di dalamnya, dan menghadapinya langsung tepat di depan muka; maka kemudian ada sesuatu di dalamnya yang merupakan sumber pengharapan, di tengah penderitaan, ada hadiah yang tersembunyi. Saya, semakin lama menjalani hidup, telah menemukan bahwa hadiah-hadiah dalam kehidupan sering kali tersembunyi di dalam tempat-tempat yang paling menyakitkan. Saya mengatakan hal ini supaya kamu dapat bertahan menghadapi penderitaan. Saya pikir satu tantangan besar dalam hidup adalah untuk berani menghadapi penderitaan / lukamu, dan untuk percaya bahwa ada sesuatu yang aman dibalik itu. Yang akan mulai terjadi, jika kamu bersedia menghadapi penderitaanmu, adalah akan ada suatu seperti perasaan aman yang timbul dibalik penderitaan itu; ternyata hal itu tidak menyeramkan seperti yang kau pikirkan, dan dibalik kesepianmu, akan ada suatu pengalaman dekapan yang aman….

Saya sudah cukup banyak mengalami situasi dimana jika saya mengalami kesepian atau kecemasan, saya coba mengalihkan perhatian saya. Saya melakukan sesuatu sehingga saya tidak harus merasakan kesepian itu. Tetapi hal itu selalu memberikan kekecewaan, dan saya bahkan akan merasa lebih kesepian; atau lebih cemas lagi. Sampai akhirnya saya menemukan, jika saya bertahan dengan perasaan itu, dan melalui (kesepian) itu dengan sepenuhnya. Bukan hanya menerima kesepian itu, tetapi mengecapnya, mengunyahnya. Saya akan berkata kepada diri saya sendiri, “Ya, saya kesepian, dan biarlah saya merasakan kesepian ini.”

Saya telah menemukan bahwa ternyata kekuatan yang saya miliki jauh lebih besar daripada yang kusadari, dengan kata lain, kekuatan itu tidak datang kepada saya, tetapi kekuatan itu sungguh datang dari 1 Pribadi yang menggenggam saya, yang mengasihi saya jauh sebelum saya dilahirkan; dari 1 Pribadi yang akan mencintai saya bahkan sampai jauh setelah saya mati. Ini bukan hal intelektual. Yesus bagi saya adalah pusatnya. Yesus bagi saya adalah Pribadi yang menolongku menemukan bahwa Allah telah mengasihi saya jauh sebelum saya dilahirkan, dan akan tetap mengasihi saya jauh setelah saya mati. Kasih Allah yang telah ada jauh sebelum dan sesudah manusia lain menyentuh saya. Misteri dalam pengenalan akan Yesus adalah misteri tentang pengenalan akan Allah yang mampu merangkulku lebih luas dan dalam melampaui apa yang orang lain bisa lakukan.

Hal ini terdengar cukup teoritis, tapi saya secara perlahan telah menemukannya dalam hidup melalui banyak penderitaanku, kekecewaanku, dan usahaku sendiri melarikan diri ke berbagai tempat.”

Henri Nouwen – dikutip dari NOUWEN oleh Christopher de Vinck


Wednesday, February 06, 2019

Si Item 2.0


Setelah banyak nasehat untuk memberikan pensiun kepada si Item... Akhirnya Tuhan memberikan berkatNya kepada saya.

Lewat proses yang panjang, sejak akhir tahun 2018... Akhirnya datanglah Jericho alias di Item 2.0

Banyak yang bertanya kenapa namanya Jericho? Pertama saya ingin nama berawalan J ... Entah kenapa suka aja. Lalu terbersitlah nama ini yg terkesan kokoh dan tangguh seperti tembok Jericho.

Jericho adalah mobil Daihatsu Sigra warna hitam tipe X AT.

So please welcome Jericho, may we make many new journeys together.

Sunday, July 01, 2018

Kisah Si item

Kemarin pagi begitu sampai di parkiran gereja, tiba-tiba petunjuk indikator menyala semua. "Ada apa ini?" Saya buka kap mesin tapi tidak menemukan keanehan.
Pulang gereja saya masih memakai mobil menuju rumah ortu; indikator masih menyala; dan ac mobil seperti tidak dingin....

Hati saya sudah was-was; ketidaktahuan apa penyakit mobil saya ini membuat cemas. Setelah coba bertanya kepada teman dan juga konsultasi ke shop n drive; saya diperingati ini cukup serius dan butuh penanganan dari mekanik bengkel. Tetapi karena itu hari minggu sore; tidak ada lagi bengkel yg buka.

Ketika mengendarai mobil pulang; keadaan makin galau karena mobil seperti tidak bertenaga. Saya berdoa semoga besok pagi mobil masih kuat dikendarai sampai ke bengkel terdekat.

Senin pagi, dengan penuh doa saya bawa si item dari rumah ke bengkel yang berjarak mungkin 2 km saja.
Mobil masih bisa distarter tetapi ketika sampai diperempatan lampu merah saya merasa mobil benar2 kehilangan tenaga.
Ketika lampu hijau, mobil benar2 hilang tenaga dan hanya menggelingding saja... Saya berdoa lebih kencang; setidaknya memohon agar mobil tidak berhenti di tengah2 perempatan jalan ramai itu.
Puji Tuhan mobil berhenti total 100 meter setelah lampu merah dan sudah tidak bisa distarter lagi.

Panik! Bingung! Berusaha menghubungi adik dan teman yg saya tahu dekat tempat mobil mogok tp tdk ada jawaban.
Bersyukur di mobil ada nomor telepon bengkel mobil yg saya mau tuju.
Singkat cerita, seorang montir dari bengkel datang membawa aki baru agar setidaknya mobil bisa melaju sampai bengkel.

Puji Tuhan mobil tiba juga dibengkel. Ternyata fanbelt mobil putus sehingga menyebabkan mesin tidak berfungsi seharusnya dan mengambil daya hanya dari aki.

Dugaan saya fanbelt putus di parkiran gereja. Dan saya hanya bisa bersyukur bahwa peristiwa ini tidak terjadi di hari Sabtu saat saya hilir mudik ke alam sutera lewat tol. Kejadian bisa lebih fatal kalau mobil mogok di tol atau putus saat saya sedang melaju kencang.

Terima kasih Tuhan untuk pemeliharaanmu bagiku.

Wednesday, March 22, 2017

God's Solution: doing life the hard way

The hard way is a habit of doing what is best rather than what's comfortable to achieve the worldwide outcome.

1. Change "I deserve" to "I'm responsible"
I deserve means I have to get what I want out there ... whatever it takes. Powerless phrase
I'm responsible: empowering phrase

2. Do the hard things first
do the NEXT hard things; it really makes a different
very successful people, they live life diffently. The morning is the hard stuff; and the evening is the easy stuff.
"eat the brocolli before the ice cream"

3. Keep inconvenient commitment
Commmitment is what holds our world together
Emphaty: feeling the impact that I have on others

4. Engage in service
Happy people is people who have happy life and also helping other people in life who have nothing to pay them. (example from Jesus Christ himself)

John Townsend

Eureka!!

Sometimes God teaches me through circumstances, and today I learned new things about what I am facing. Thank you God, and I am sure you have a perfect purpose why You allow me to face this one. Now I am asking for your wisdom to deal with this situation; because you are the source of healing. I know your love is the biggest than anyone.

After Match

Aku memandang layar laptopku dengan pandangan kosong. Sulit untuk melakukan pekerjaan hari ini; pikiranku seperti mesin cetak jaman dulu yang terus berputar menghasilkan artikel yang sama. Perselisihan dengan Ken yang baru terjadi semalam terus berkecamuk dalam pikiran.

"Huuuufftt..." aku menghela nafas seakan bisa melapangkan apa yang ada di dada. Hati kecilku berbicara "Sudahlah.... let it go, lebih baik fokus dengan hal yang lain..." Tapi hal itu sudah kucoba lakukan seharian ini... hasilnya nihil.

Akhirnya aku menyerah! Aku membuka word document. Huruf demi huruf terhujam lewat hentakan jari di atas keyboard menumpahkan segala kekesalan hati dan kegundahan. Sekaligus membantukku berpikir ulang episode demi episode yang terjadi semalam di dalam benak ini. Mencoba menangkap bagaimana hasil akhir kisah ini..... happy ending kah? atau tamat dengan tragis.....?

Aku sadar tidak ada cara menjawab pertanyaanku itu selain menjalaninya dengan lapang dada dan bersikap jujur dengan diri sendiri. Apapun yang terjadi... bukan lagi tanggung jawabku; karena aku tidak memegang kendali dari apa yang akan terjadi. "It's not me who holds tomorrow!" bisikku dalam hati.

Jarum detik di jam tanganku serasa berjalan lebih lambat.... atau lebih cepat?

"Huufffftt....," kembali aku menghela nafas.... memejamkan mata, mencoba membayangkan cahaya, mengucap doa dan berharap yang terbaik.

Ya, saya siap menulis lanjutan kisah ini; apa pun yang terjadi, aku akan hadapi dengan berani dan mengingat bahwa aku punya harapan dan niat yang baik. Semoga Tuhan mendengar bisikan hati ini. 

Tuesday, March 21, 2017

Rentan

Berjalan dan menari di antara insan
langkah kecil, berlari, berjalan
menginjak tanah yang rentan
apakah retak salahku, teman?

Aku tetap melaju, berlalu
Lompati saja, agar tak jatuh
Jauh melayang menggapai jauh
karena harapan tempatku bersauh

Kesepian di Masa Kuncitara

Indonesia, atau tepatnya Jakarta saat ini sedang berusaha untuk menanggulangi tingkat kasus terpapar Covid19 yang semakin meningkat. Upaya u...